24
Unfinished thoughts at 24: EMR design, dengue biomarkers, evidence-based health policy, and the search for passive income.
Had too many things on my mind this year. Too many ideas, too little efforts to actually finish the thought. So here’s a bucket of my unfinished strand of ideas:
Electronic Medical Records
Beberapa bulan ini saya menjadi dokter pengganti di beberapa klinik. Satu hal yang saya amati: keeping good record of clinical visit was overly complicated. Pertama, perawat kliniknya menulis identitas pasien di register, kemudian mencari rm pasien di lima kotak besar rekam medis. Kemudian bagian saya untuk menulis S-O-A-P, yang mana “P”-nya akan disalin kembali oleh perawatnya ke buku register. Kemudian S-O-A-P ini harus di-input ke web BPJS, dan di akhir shift perawatnya kembali harus merekap jumlah pasien, obat keluar, dst. Dengan rekam medis elektronik, harusnya hal-hal semacam ini bisa jauh lebih mudah. Andai saya bisa coding.
I think I’ve had a pretty good grasp on the EMR design, but still lacking the skill and motivation to do so.
The Dengue Thing
Bagian tersulit manajemen pasien dengue adalah stratifikasi risiko. Tidak mudah menebak pasien mana yang akan baik-baik saja, pasien mana yang akan jadi DSS. Dan ada satu marker yang cukup menarik secara konseptual dan rasa-rasanya bisa menjadi biomarker yang sensitif dan spesifik. Marker ini bisa menjadi penanda degradasi glycocalyx, yang ujung-ujungnya menyebabkan kebocoran plasma. Jika marker semacam ini bisa dipakai, harapannya manajemen infeksi dengue bisa lebih terukur dan perjalanan penyakitnya dapat diprediksi. Tetapi merancang (apalagi mengerjakan) penelitian biokimia semacam ini rasanya sulit dan rumit sekali. nyerah duluan, payah kamu nak.
Evidence-Based Health Policy
Kadang saya ingin mempertanyakan seberapa scientific literacy pemimpin-pemimpin kita; seberapa banyak kebijakan yang benar-benar memiliki dasar secara ilmiah, bukan semata-mata mengakomodasi kepentingan politik dan ekonomi berbagai pihak. Tentang cost-sharing penyakit katastrofik misalnya; solusi yang disampaikan di media massa rasanya hanya simptomatik. Uangnya kurang, minta uang lagi, that simple.
Padahal sebenarnya penyakit-penyakit katastrofik itu akar masalahnya dari penyakit yang kelihatannya “kacangan” — diabetes, hipertensi. Bagaimana nggak jadi CHF kalau valsartan, candesartan, dan sartan-sartan lainnya hanya ditanggung di beberapa rumah sakit, dan pasti tidak ada di puskesmas/fasyankes primer. Bagaimana tidak jadi stroke kalau statin hanya ditanggung jika LDL sudah benar-benar tinggi, itupun hanya di rumah sakit.
Passive Income
Untuk orang seperti saya — muggle dan bukan orang beruang, sebenarnya bisa lulus jadi dokter umum saja sudah syukur. But I had big dreams, bigger than my body. Dan hanya ada dua pilihan untuk mewujudkannya: (1) beasiswa — belum tentu dapat, dengan risiko harus menetap di luar kampung halaman, dan (2) punya cukup uang. Dan dengan jadi dokter umum saja, rasanya mimpi ini jauuuh sekali. Ergo, saya butuh penghasilan tambahan.
Money is freedom after all.