Abadi
I am billions of years old — born with stars that may no longer exist. On atoms, immortality, and being the universe in miniature.
Tahukah kamu, aku telah berumur miliaran tahun? Aku lahir bersama bintang-bintang yang hari ini mungkin sudah tiada. Aku adalah saksi semesta yang terus menerus terbentuk, terbakar, meletus, meledak, dan tersusun kembali. Akulah penonton dan pelaku drama yang tak berujung ini.
Aku adalah kumpulan semesta yang tak kasat mata. Aku adalah mereka yang katanya telah habis terbagi, tapi ternyata masih memiliki bagian. Aku bukan hanya bagian kecil dari semesta, aku adalah semesta berukuran kecil.
Aku manusia biasa, sama sepertimu; dan aku abadi.
Tetapi tubuh ini hanya sementara. Tubuh ini — betapapun indah atau buruknya, tak lebih dari sebuah mesin daur ulang. Tulang yang nampaknya kokoh ini terbangun dari kalsium dari susu sapi yang entah darimana datangnya. Protein di otot ini tak lebih dari sisa-sisa jasad hewan yang telah lama mati. Glukosa di darahku berasal dari beras yang dihasilkan padi yang mungkin menghirup karbon dioksida yang kamu hembuskan.
Tubuh ini barang bekas, bahkan saat dilahirkan pun tak baru.
Kadang aku, kita, terjebak dalam ke-sementaraan tubuhku; bahwa disaat tubuh ini tak lagi bernafas dan jantung ini berhenti berdetak, aku akan mati.
Tidak. Aku takkan mati. Tubuh ini mungkin akan terkubur dan membusuk; tapi aku akan terus hidup. Aku akan terus terpecah dan tersusun, membentuk dan dibentuk.
Bukankah sudah kubilang aku abadi?
The nitrogen in our DNA, the calcium in our teeth, the iron in our blood, the carbon in our apple pies were made in the interiors of collapsing stars. We are made of star-stuff.
— Carl Sagan
p.s “aku” do sounds cool after all