Search

Antariksha

Interstellar, time dilation, wormholes, and that Dylan Thomas poem — a review in fragments.

broca.id3 min read

Do not go gentle into that good night;
Old age should burn and rave at close of day.
Rage, rage against the dying of the light.

Kalau kawan belum lihat Interstellar, coba bayangkan puisi ini dibacakan dengan aksen British-nya Michael Caine ketika sebuah pesawat ulak-alik bergerak perlahan menyusuri gelapnya ruang angkasa; merinding, bung!

Saya penyuka film fiksi ilmiah, saya suka film soal ruang angkasa, saya suka film-nya Christopher Nolan; disini, ketiganya beririsan. Terlalu banyak rasanya yang ingin saya tuliskan tentang film ini, mungkin baiknya saya tulis poin-poinnya saja.

The Engineer

Ada satu adegan dimana Cooper (Matthew McConaughey) berbicara soal anaknya dengan seorang guru, dan sang guru berkata “we don’t need more engineers, we didn’t ran out of television screen, we ran out of food”. Ada dua hal yang menarik disini: (1) Seperti kata Goenawan Mohamad di reviewnya (iya, pendiri majalah Tempo mereview film ini), film sains fiksi ini dengan gagahnya mempertanyakan manfaat sebuah kemajuan, manfaat teknologi yang selalu kita puja-puja kalau pada akhirnya nanti tidak mampu menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi; dan (2) Sebagai penyuka sains di dunia ketiga, bagian ini menggambarkan betapa susahnya memilih jurusan waktu SMA dulu; karena negeri ini butuh pekerja — dokter, guru, mekanik; bukan anak kecil pemimpi yang masih terbengong-bengong menatap bintang.

The Robot

Walau sudah sebesar ini, pada dasarnya saya masih anak-anak; dan anak-anak suka robot-robotan; dan namanya bung, TARS. A time-travelling machine shaped like a box with a personality, just call it a TARDIS already.

The Physics

Maafkan kalau ilmu fisika saya sudah luntur dimakan usia, tetapi ada beberapa hal yang berhasil saya ingat lagi dari film ini; tentang time dilation yang dijelaskan Cooper pada anaknya yang masih berumur sepuluh tahun, tentang wormhole yang dijelaskan dengan lipatan kertas, tentang empat dimensi dunia dan “dunia lain” dengan lima dimensi, tentang black hole, tentang event horizon; these things bring back memories.

The Poem

“Do not go gentle into that good night.” Puisi ini dibaca beberapa kali sepanjang film ini, dan momen-momen dimana puisi ini dibaca hanya menegaskan artinya.

The NASA

Mungkin saya salah, tetapi sepertinya dunia sudah mulai mengacuhkan dunia antariksa. Ini bukan lagi tahun 60-an dimana negara-negara besar berlomba mengirim astronotnya ke luar angkasa, dimana seluruh dunia menyaksikan pendaratan pertama di bulan. Tahun lalu, untuk pertama kalinya umat manusia mendaratkan pesawat tanpa awak di sebuah komet namun hastagnya di Twitter tetap sepi. Apakah kita masih — seperti kata Cooper, wondering about our place in the stars, atau kita sudah terlalu sibuk bahkan untuk sekedar bertanya-tanya?

The Time

Dalam film ini, dimensi kelima divisualisasikan sebagai sebuah “perpustakaan waktu”, dimana waktu dan kejadian-kejadian adalah buku-buku yang memenuhi rak-rak perpustakaan; semuanya bisa dilihat dan dibaca-baca lagi, atau bahkan ditulis kembali. Seperti kata seorang pasien di House MD: “life is a series of rooms”, atau kata Zen RS “kita bergerak dari suasana ke suasana”; sesungguhnya sepanjang hidup ini kita hanya bergerak dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang, dari momen ke momen; semuanya dalam sebuah buku dengan nama kita tertulis diatasnya. Entah siapa penulisnya.

Do not go gentle into that good night,
rage, rage against the dying of the light.