Contagion
A scientific-esque movie review from January 2020: R0, outbreak dynamics, and the Wuhan coronavirus — written just as the world was about to change.
Disclaimer: saya bukan epidemiologis, bukan pula mikrobiologis. This is little more than a scientific-esque movie review. Take this with a grain of salt.
What we do know is that in order to become sick, you have to first come in contact with a sick person or something they touched. In order to get scared, all you have to do is come in contact with a rumor. — Contagion (2011)
Saya tidak habis pikir bagaimana beberapa hari terakhir ini mengingatkan saya pada film Contagion-nya Steven Soderbergh. Keduanya dimulai di Cina (Hong Kong pada filmnya), dan keduanya (kemungkinan) melibatkan kelelawar.
Satu lagi yang samar-samar saya ingat adalah tentang R0 (dibaca R-nought) yang dijelaskan Kate Winslet di film ini. Kalau yang menjelaskan mbak Marion Cotillard (yang juga ada di film ini), mungkin saya ingat lebih jelas.
Understanding R0
Per definisi, R0 adalah “the average number of persons directly infected by an infectious case during his/her entire infectious period, when he/she enters a totally susceptible population”
Jika diterjemahkan, kurang lebih R0 berarti rerata jumlah orang yang terinfeksi secara langsung oleh satu kasus (pasien) selama masa infeksius pasien tersebut, jika orang tersebut memasuki populasi yang seluruhnya suseptibel.
R0 adalah indikator yang penting, karena bisa menunjukkan kemungkinan terjadinya epidemi (epidemic threshold). Jika R0 suatu penyakit < 1, artinya satu kasus (pasien) rata-rata menginfeksi kurang dari satu orang lain, maka kemungkinan penyakit ini akan hilang dengan sendirinya di populasi karena semakin sedikit orang yang terinfeksi. Sementara jika R0 suatu penyakit > 1, maka akan semakin banyak orang yang terinfeksi dan kemungkinan penyakit tersebut akan menyebabkan epidemi. Jika R0 suatu penyakit adalah 2, maka satu kasus primer akan menginfeksi dua kasus sekunder, dan dua kasus tersebut akan menginfeksi empat kasus tersier, demikian seterusnya.
The R0 Formula
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi R0, yang paling sederhana menuliskannya sebagai R0 = T × C × D; dimana T adalah transmissibility (jumlah infeksi/jumlah kontak), C adalah rerata kontak (jumlah kontak/satuan waktu), dan D adalah durasi infeksius seorang pasien.
Transmisibilitas suatu penyakit tentu dipengaruhi oleh patogen tersebut sendiri, masing-masing patogen memiliki angka transmisibilitas yang berbeda, bahkan strain berbeda dari patogen yang sama juga bisa memiliki transmisibilitas yang berbeda. Angka kontak juga dipengaruhi oleh metode transmisi sebuah penyakit, penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tentu memiliki angka kontak yang berbeda dengan penyakit yang ditularkan secara airborne. Demikian pula dengan durasi infeksius.
Herd Immunity
Yang menarik disini, angka R0 berlaku jika seorang pasien memasuki populasi yang sepenuhnya suseptibel. Pada awal outbreak — apalagi yang disebabkan patogen baru, tentu sebagian besar populasi suseptibel terhadap infeksi tersebut. Namun seiring dengan meluasnya infeksi, semakin banyak pula individu yang sembuh dan imun terhadap patogen tersebut, sehingga tidak terinfeksi kembali. Anggaplah sebuah patogen dengan R0 sebesar 2, pada awalnya satu kasus akan menginfeksi dua orang, kemudian empat orang, dan seterusnya. Namun pada suatu waktu, setelah infeksi menyebar luas dan 50% dari populasi tersebut imun terhadap penyakit tersebut, satu pasien hanya akan menginfeksi 1 individu, dengan asumsi satu individu lain sudah imun. Inilah alasan kenapa setiap outbreak pada akhirnya padam dengan sendirinya.
Notes on Wuhan Coronavirus (January 2020)
- Menurut WHO, R0 Wuhan Coronavirus diprediksi antara 1.4–2.5; sementara prediksi lain menyebut 4.6–4.0.
- Case fatality diperkirakan WHO pada angka 4% (lebih kecil dari SARS sekitar 14–15%).
- Periode inkubasi diperkirakan mencapai 14 hari, dan infeksi dapat tersebar pada masa asimptomatik (berbeda dengan SARS dimana infeksi hanya tersebar oleh pasien simtomatik).
- Pemerintah Cina mengkarantina kota Wuhan, dengan menutup seluruh akses keluar dan membangun makeshift hospital dalam enam hari (just like the Americans did in the movie).
- Apakah karantina efektif? Tentu secara teori dengan mengkarantina suatu populasi, kita bisa membatasi jumlah populasi yang suseptibel. Namun mengingat pasien pertama Wuhan Coronavirus mulai simptomatik pada tanggal 1 Desember 2019, entah seberapa efektif karantina ini nantinya.
- Dari tiga komponen yang mempengaruhi R0, hanya satu yang bisa kita kontrol: contact. Jadi pastikan contact precaution, pakai masker, dan katanya mbak Kate Winslet: “stop touching your face.”
- Sampai saat tulisan ini dibuat, belum ada kasus terkonfirmasi di Indonesia, dan Kemenkes (katanya) telah menyiagakan 100 RS.
- Salah satu Gubernur menyambut wisatawan asal Cina ditengah-tengah epidemi ini, katanya seluruh wisatawan tersebut telah di-thermoscanner dan dinyatakan sehat. I bet he’s gonna regret this when he reads that it can spread through asymptomatic patients.
- Just like it did in the movie, misinformation spreads just as fast as the disease itself. Ada yang menyebut kebocoran dari laboratorium, ada juga yang mengaitkan dengan muslim Uighur.
- Daripada menghabiskan waktu membaca teori konspirasi, coba bayangkan seandainya outbreak semacam ini dimulai di Indonesia. Berapa lama kira-kira sampai kita tahu bahwa outbreak sedang terjadi? Bisakah kita membangun RS darurat dalam 6 hari? Apa kita punya cukup ahli epidemiologis dan mikrobiologis kalau-kalau ini terjadi? Apa kita punya sarana karantina yang memadai? These are the right questions.
- And of course, go watch the movie.