Search

Empat Enam

Is 4×6 the same as 6×4? A viral debate between professors — and what it means for the kid who just learned to count.

broca.id2 min read

4+4+4+4+4+4 itu ditulis 4×6 atau 6×4?

Bingung kan? Saya juga.

Jadi ceritanya ada seorang anak SD yang menulis 4+4+4+4+4+4 sebagai 4×6, tetapi ternyata disalahkan gurunya; menurut sang guru, jawaban yang benar adalah 6×4. Ketika permasalahan ini dipost di Facebook, banyak yang berkomentar dan mendebat; termasuk profesor-profesor terkemuka kita.

Ketika menghitung 6 × 4, kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 6 kotak berisi masing-masing 4 jeruk. Jadi, 6 × 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4. Ketika menghitung 4 × 6, kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 4 kotak berisi masing-masing 6 jeruk. Jadi, 4 × 6 = 6 + 6 + 6 + 6.

Yohanes Surya, Fisikawan

Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 × 6. Tetapi, Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 × 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 × 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 × 6, walau hasilnya sama 24.

Thomas Djamaluddin, Profesor Antariksa LAPAN

6×4 dan 4×6 itu sama saja. Itu bukan soal benar salah, melainkan kesepakatan dalam mengekspresikan penjumlahan berulang dalam perkalian. Itu ilmu alam, bukan matematika jadinya. Di ilmu alam, kita mengamati alam, lalu berteori. Di matematika, kita berteori dan bernalar dengannya, menjelajah berbagai inferensinya.

Iwan Pranoto, dosen Matematika ITB

Now that escalated quickly.

Saya kurang tahu mana yang benar dan mana yang salah; saya bukan matematikawan. Perdebatan ini memang menarik ketika yang berdebat adalah profesor-profesor terkemuka; tetapi bagaimana dengan anak SD tadi?

Secara personal saya setuju dengan bapak Iwan, 4 × 6 dan 6 × 4 itu sama saja — setidaknya untuk anak SD. Jangan bebani mereka dengan formalitas, apalagi yang hanya bersumber dari kesepakatan.

Mereka harus paham konsep agar tidak jadi “generasi kalkulator”; tentu! Tetapi apakah konsep itu harus disuapi dan dipaksakan ke sang anak? Tidak adakah ruang untuk nalar dan kreativitas mereka?