Search

#hastag

Virtual activism, 140-character revolutions, and the silence of today's students — on the gap between hashtags and history.

broca.id1 min read

“Saya itu dulu aktivis, suka ikut demo; kalian-kalian ini sekarang aneh. Aktivis bukan, pinter juga nggak; ngapain aja?”

— dr. F (dengan perubahan)

Kalimat ini rasanya sudah sering terdengar; mungkin dengan kalimat yang berbeda, intonasi berbeda; tetapi intinya sama: (sebagian) mahasiswa jaman sekarang bisu.

Kita aktivis kok, Dok; di Twitter.

Harusnya kawan masih ingat bagaimana pilpres kemarin banyak di Twitter yang terang-terangan memihak; #bejo, I stand on the right side, etc. Bagaimana ice bucket challenge bisa jadi tren dimana-mana; tetapi masih banyak yang gagal paham ALS itu apa.

Ada nama keren untuk tren ini: virtual activism. Virtual karena memang semu, virtual karena tidak nyata. Bandingkan dengan mereka di tahun 1998, bandingkan dengan mereka di Hong Kong.

Saya iri dengan cerita tentang pak Anies yang di masanya jadi mahasiswa berani berdiri tegak menghadang sepasukan tentara yang mau masuk ke UGM. Saya iri dengan cerita dosen yang selamat dari peristiwa Malari. Saya malu karena bahkan tidak tahu Malari itu apa.

Tetapi saya juga bukan mereka yang melempar dan membakar. Saya mereka yang berharap bisa bicara dan diskusi.

Ah, bilang saja kapasitas aktivismu hanya 140 karakter.