Kurva Masa
Golden Age Thinking, Bill Gates' optimism, and the curve that's still climbing — a rebuttal to nostalgia.
Selalu ada mereka yang hidup di masa lalu; yang merasa musik tahun 2000-an lebih enak didengar dibanding yang sekarang; yang menganggap film hitam-putih tahun 70-an lebih menarik dari blockbuster jaman sekarang, yang kerap terjebak sebagai orang ‘lama’ di dunia yang serba baru. Di Midnight in Paris-nya Woody Allen, keterikatan dengan masa lalu ini disebut Golden Age Thinking; pemikiran bahwa masa lalu itu adalah zaman keemasan, dan masa itu sudah berakhir.
Mungkin pemikiran semacam ini ada benarnya; lihat saja film-film dengan rating tinggi di IMDB, kebanyakan film-film tua macam The Shawshank Redemption, Pulp Fiction dan Schindler’s List. Tetapi bukan berarti pemikiran semacam ini luput dari fallacy. Memandang masa lalu sebagai zaman keemasan berarti menempatkan hari ini dan masa depan dalam bagian menurun kurva parabola; menganggapnya sedang dalam gerakan jatuh bebas.
The truth is, I am one of those who lived in the past.
Dunia di mata saya abu-abu; kelompok ekstremis dimana-mana, dengan jutaan orang terusir dari rumahnya karena perang-perang saudara; silo-silo nuklir bertebaran, kemiskinan yang (seakan) tak berubah, virus-virus baru bermunculan dengan antibiotik lumpuh satu persatu. Rasanya benar-benar jatuh bebas.
Tetapi benarkah kita sedang jatuh? Benarkah puncak kurva sudah terlewati?
Perang memang masih “musim” di masa ini, tetapi secara statistik kita bergerak menuju perdamaian. Korban memang masih berjatuhan dimana-mana, tetapi tetap saja tidak ada apanya dibanding body count di masa PD I dan II.
Jurang antara kaya dan miskin memang masih menganga lebar; 50% kekayaan dunia masih ada di tangan 1% orangnya. Tetapi perubahan sedang berlangsung dimana-mana; kantong-kantong kelas menengah sedang tumbuh di berbagai negara.
Di tahun 1990, satu dari sepuluh anak meninggal sebelum berumur lima tahun; hari ini hanya satu dari dua puluh, dan mungkin satu dari empat puluh di tahun 2030.
Bahkan Bill Gates di annual letter-nya tahun ini menyebut:
The lives of people in poor countries will improve faster in the next 15 years than at any other time in history. And their lives will improve more than anyone else’s.
Kurva masih menanjak, bung! Ini belum saatnya berkabung.