Search

No Rush

On finding comfort in the present — a reflection from the ER, where for the first time, the urge to rush to the next room faded.

broca.id2 min read

Kalau hidup adalah untaian ruangan demi ruangan, “a series of rooms” kata dokter House di salah satu episodenya; maka saya adalah seorang nomad. Saya tidak pernah benar-benar nyaman di satu ruangan, selalu ingin bergegas ke ruang berikutnya. Saya selalu berdiri di depan pintu, tak sabar menunggunya terbuka. Saat jadi koas saya ingin cepat lulus; waktu internship saya tak sabar menunggu STR, dan jadi PNS.

Mungkin seharusnya sekarang saya ingin cepat-cepat jadi residen.

But I’m not. At least not that much.

Dua bulan terakhir ini, saya bekerja di RSUD wahana internship dulu. Untuk pertama kalinya, saya merasa nyaman dengan pekerjaan saya.

Gedung-nya masih sama; ramai dan kroditnya belum banyak yang berubah, lelahnya masih terasa seperti biasa. Naik-turunnya juga selalu ada. Tetapi suasananya berbeda. Saya tidak lagi ingin cepat-cepat bergegas. Saya ingin tetap di ruangan ini, setidaknya untuk sementara.

The Three Criteria

Ada tiga hal — katanya, yang sebaiknya kita cari dalam setiap pekerjaan yang kita jalani.

Pertama, pekerjaan kita seharusnya membuat kita merasa nyaman, membuat kita merasa bahwa setiap tindakan yang kita lakukan ada impact-nya.

Kedua, pekerjaan kita seharusnya membawa dampak finansial yang cukup. Ada kerja, ada uang. Ini hukum alam.

Ketiga, pekerjaan kita seharusnya memberikan ruang untuk berkembang.

Having all three is best, two out of three should be acceptable.

Weighing the Options

Di bulan-bulan terakhir internship, ketiga syarat ini lah yang selalu saya timbang-timbang.

Kalau saya memutuskan kembali ke pekerjaan sebelum internship, menjadi dokter jaga di klinik dan hotel berbintang; mungkin secara finansial kebutuhan saya terpenuhi, dan sepertinya akan nyaman karena sudah terbiasa, tetapi tidak banyak ruang untuk berkembang.

Jika saya mendaftar magang, mungkin saya akan nyaman dengan pekerjaannya (kalau sesuai dengan spesialisasi yang saya cari), dan ruang untuk berkembang mungkin lebih terbuka, tetapi ora ono duité. Not so young, very dumb, and broke.

Jika saya lulus tes CPNS. You’re not, live with it.

Kalau saya menjadi dokter jaga IGD, awalnya saya merasa akan mengorbankan kenyamanan saya. Secara finansial mungkin cukup, dan selalu ada ruang berkembang kalau saya mau belajar, tetapi tidak akan benar-benar nyaman. But now I am, surprisingly.

Maybe this is the new normal. Maybe this is what I’d do for the rest of my life. Maybe this is it. Maybe not.

No rush.