Search

Original

On mirroring accents, copying styles, and the uncomfortable truth that every mosaic — no matter how unique — is made of borrowed stones.

broca.id2 min read

Saya suka memperhatikan orang, bukan “memperhatikan” dalam terminologi sepasang kekasih, tetapi “memperhatikan” dalam arti harafiah: melihat, mengamati, mengobservasi. Sayangnya, dalam pengamatan itu, seringkali saya gagal mendapat sebuah gambaran tentang seseorang; I’m a poor judge of character. Justru yang lebih sering teramati adalah hal-hal kecil; hal-hal yang tidak penting. Idiosyncrasies, Robin Williams menyebutnya di Good Will Hunting.

Salah satu korban observasi saya adalah kakak saya sendiri; dan idiosyncrasy-nya adalah tulang belakang tulisan ini.

I’ll be blunt. Saya tidak suka cara kakak saya berbicara; terutama ketika dengan orang lain yang logatnya berbeda. Gaya bicara kakak saya seperti sebuah cermin, memantulkan apa yang diberi padanya. Dia akan berbicara dengan logat khas Buleleng dengan temannya dari Singaraja; bahasa Indonesia ke-Jawa-an dengan orang Jawa; bienvenue dengan orang Prancis; addio dengan orang Italia.

Kenapa saya tidak suka? Ini soal prinsip. Saya percaya setiap orang adalah sebuah entitas yang benar-benar unik, original. Saya sadar betul Bahasa Indonesia dan Inggris dalam logat Bali tidak selalu enak didengar; tetapi kalau memang saya terdengar seperti itu; maka memang seperti itulah suara saya.

Dan semua berubah saat negara api menyerang.

Ternyata saya juga berbicara seperti orang lain; logat, canda-an, tawa, semua copy-paste dari beberapa orang teman. Bahkan tulisan saya — yang selama ini saya anggap unik, ternyata punya saudara kembar dimana-mana. Saya seringkali menggunakan satu kata sebagai sebuah judul tulisan; saya pikir ini buah pikiran saya sendiri. Tetapi setelah dirunut ternyata asalnya dari Cari Angin-nya Putu Setia dan Caping-nya Goenawan Mohamad di Tempo.

Lalu dimana originalitasnya? Dimana standar yang selama ini saya junjung tinggi? Saya cuma copycat yang bahkan tidak sadar bahwa dirinya seekor kucing.

But then I met this one.

Mungkin ini waktunya mendefinisikan kembali kata “original”; bahwa dalam perjalanannya tidak mungkin orang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa orang lain; bahwa setiap orang adalah akumulasi orang-orang disekitarnya. Meniru — seberapapun rendah kedengarannya, adalah perwujudan kekaguman pada orang lain.

Tidak ada yang salah dengan meniru, karena bahkan mosaik yang berasal dari pecahan batu-batu lain pun tetap tak ada duanya.

…semoga nggak dibaca ya, brother mine.