Search

Retorika

Soekarno vs Hatta in print — on rhetoric, writing your own speeches, and why the words you choose say more than the points you make.

broca.id3 min read

rhet·o·ric /ˈredərik/ — the art of effective or persuasive speaking or writing, especially the use of figures of speech and other compositional techniques.

Dulu di masa perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda; dua proklamator kita — Soekarno dan Hatta, pernah ‘bertengkar’ hebat di media massa.

Saat itu, mereka sama-sama berjuang berdasarkan paham nonkooperasi, mereka menyatakan menolak bekerjasama dalam bentuk apapun dengan pihak Belanda; tetapi di saat yang sama, terdengar isu bahwa Hatta ditawari salah satu partai dari Belanda (kalau tidak salah Partai Sosialis) untuk duduk di parlemen.

Pihak Soekarno menyerang Hatta dengan menulis di media massa; menyatakan bahwa tawaran tersebut tidak sesuai dengan prinsip nonkooperasi. Hatta membalas dengan mengatakan bahwa ada yang salah dengan prinsip nonkooperasi pihak Soekarno; nonkooperasi berarti tidak bekerjasama, bukan tidak terlibat dalam pemerintahan.

Hatta melihat tawaran ini sebagai peluang untuk dapat benar-benar berjuang dalam parlemen Belanda; karena jalur yang ada saat itu — Volksraad; belum dapat mewakili kepentingan rakyat dengan baik. (Volksraad adalah ‘dewan rakyat’ untuk Hindia Belanda [Indonesia], bukan dalam parlemen Belanda itu sendiri. Sekali lagi kalau tidak salah.)

Terlibat di parlemen Belanda — menurut Hatta, adalah salah satu jalur perjuangan yang dapat ditempuh; tetapi tentu saja dengan tetap tidak bekerjasama. Pada akhirnya tawaran ini beliau tolak.

Setelah melepaskan jabatannya sebagai Wakil Presiden, Hatta juga pernah menyerang Soekarno — yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden, dengan tulisannya. Hatta menulis esai berjudul “Demokrasi Kita” di majalah Pandji Masyarakat no. 22, 1 Mei 1960; dan majalah ini sempat dilarang terbit karenanya.

Hari ini, rasanya tak banyak tokoh-tokoh nasional kita yang bisa meluangkan waktunya (baik sebelum ataupun setelah menjabat) untuk menuangkan pikiran dengan tulisan di media; semuanya diserahkan pada pihak media, pada tim media sosial, pada penulis pidato kepresidenan. Masih ingat dengan pidato Boediono yang persis dua tahun berturut-turut; atau tulisan “Revolusi Mental” Jokowi yang ternyata ditulis timnya?

Mungkin menggaji tim PR, atau membeli saham televisi dan media cetak masih lebih mudah daripada menulis :p

Padahal menulis (atau berpidato) sendiri adalah jalan yang paling mudah dilakukan untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran kita. Tidak hanya poin-poinnya (yang bisa dicorat-coret sedikit dan dilempar ke tim public relations untuk dijadikan tulisan atau pidato) yang penting; pilihan katanya, strukturnya, caranya menceritakan; semuanya akan menciptakan kesan tersendiri terhadap sang penulis.

Ah sudahlah, hari ini siapa sih yang peduli pada retorika(?)


nb. Peristiwa sejarah yang ditulis disini berasal dari ingatan penulis atas buku yang bahkan penulis lupa namanya; jadi jangan dipercaya begitu saja.