Search

Skeptis

Why I refused to accept my lecturer's explanation about cardiac output and breathing — and the middle school math teacher who rewarded my stubbornness.

broca.id3 min read

I may not look like one, but I am a rebel.

Saya ini sebenarnya keras kepala. Sampai hari ini saya masih belum bisa menerima penjelasan salah seorang dosen bahwa saat menarik nafas, CO (Cardiac Output) orang akan menurun. Analogi beliau adalah binaragawan yang syncope karena menahan nafas saat mengangkat beban, dimana udara yang tertahan di dalam paru-paru akan menekan vena-vena sentral dan menurunkan venous return.

Saya tidak teryakinkan dengan penjelasan ini; karena (1) ada reference yang menyatakan bahwa pada saat menarik nafas, tekanan di dalam rongga dada akan menurun sehingga memudahkan aliran darah dalam vena-vena sentral dan (2) syncope hanya akan terjadi jika udara tertahan dalam paru-paru; jika sang binaragawan menarik nafas dan segera mengeluarkannya, tidak akan ada udara yang terjebak dan menekan vena-vena sentral. Analogi yang diberikan tadi, Valsalva maneuver, hanya bisa menjelaskan efek menahan nafas terhadap CO, bukan menarik nafas.

Tetapi karena saya seorang mahasiswa yang baik hati dan (kebetulan) sedang kelaparan dan malas berdebat, jadi argumen ini hanya saya simpan dalam hati tumblr.

The Math Teacher

Kalau ditelusuri kebelakang, ada satu momen yang mungkin berperan dalam pengerasan kranium saya ini. Waktu itu — kelas dua SMP, saya mencoba menjawab sebuah soal dari salah satu guru matematika. Dengan penuh keyakinan (dan mungkin sedikit kesombongan) saya mengukir papan tulis dengan kapur dan jawaban yang panjang.

Apa yang terjadi kemudian? Klasik, jawaban saya dicoret. Beliau menuliskan jawaban yang benar dengan kapur berwarna merah tepat di sebelah jawaban saya.

Apa yang selanjutnya terjadi juga gampang ditebak, saya protes. Saya benar-benar yakin dengan jawaban saya, saya tidak terima disalahkan. Setelah beberapa saat mencari-cari, saya menemukan kesalahan di jawaban yang ditulis guru saya tadi; dan dengan congkaknya (dan bodohnya) saya menunjukkan kesalahan ini pada guru saya.

Beliau terdiam sesaat, dan bertanya: “Kalian tahu kenapa jawaban ini ibu tulis dengan kapur berwarna merah? Karena jawaban ini salah!” “Ibu sengaja menulis jawaban yang salah dan hanya satu yang berani bicara,” lanjutnya.

Saya tersipu, giliran muka saya yang memerah.

Ini adalah penghargaan tertinggi yang pernah saya terima. Bukan karena saya bisa menjawab, saat itu masih banyak teman lain yang bahkan jauh lebih pintar; tetapi karena saya keras kepala, karena saya memperjuangkan kebenaran saya.

Inilah yang sebaiknya ditanamkan di sistem pendidikan kita; mencoret PR anak yang menuliskan 4+4+4+4+4+4 sebagai 4 × 6 tanpa penjelasan hanya akan menyisakan kebingungan untuk sang anak. Jangan hanya ajari mereka mana yang benar, ajari mereka mencari kebenaran. Jangan hanya buat mereka bisa, buat mereka berani.

Saya benar-benar ingin mencoba ini kalau punya anak nanti. :)

Suksema, bu.