Search

Tentang Tembakau dan Ebola

When Indonesian media said tobacco can cure Ebola — and why wording matters. Tobacco isn't the medicine; it's the vector for monoclonal antibodies.

broca.id2 min read

Per hari ini, korban meninggal wabah Ebola di tiga negara — Liberia, Sierra Leone, dan Guinea, telah mencapai 932 orang. Setelah Sierra Leone beberapa hari yang lalu, kali ini Liberia juga menyatakan bahwa wabah Ebola ini merupakan kegawatan tingkat nasional.

Berita baiknya, terapi eksperimental untuk Ebola yang dirintis perusahaan bioteknologi dari AS menunjukkan respon yang baik. ZMapp — nama terapi eksperimental ini, diujikan pada dua orang dokter yang baru saja diterbangkan kembali ke AS karena terjangkit Ebola saat bertugas di Afrika.

Yang menarik adalah “bahan” yang digunakan untuk membuat terapi ini: tembakau. Beberapa berita berbahasa Indonesia juga banyak memberitakan soal ini; Tempo menulis “Tembakau Dapat Menangkal Ebola”, “Tembakau, Harapan Baru dalam Perang Melawan Ebola” (metrotvnews.com), “Obat Berbahan Tembakau Dikembangkan untuk Tangani Ebola” (detik).

Sebut saya cerewet, tak apa, tetapi judul berita yang seperti ini kurang enak dibaca — istilah kerennya misleading; karena nyatanya tembakau bukan digunakan sebagai “bahan” dalam terapi ini, melainkan sebagai vektor (CMIIW).

Terapi ini menggunakan prinsip imunisasi pasif dengan antibodi monoklonal terhadap Ebola. Antibodi ini diproduksi dengan menyisipkan kode genetik pada daun tembakau; kurang lebih seperti menyisipkan kode genetik insulin pada E. coli untuk menghasilkan insulin rekombinan. Antibodi inilah yang nantinya diekstrak dari daun tembakau tersebut dan digunakan dalam ZMapp.

Jadi menurut saya, terapi ini bukan berbahan tembakau; melainkan menggunakan tembakau dalam proses pembuatannya. Tidak ada yang bilang E. coli adalah terapi untuk diabetes, kan? Terapi diabetes adalah insulin rekombinannya.

Mungkin ada yang bilang bahwa sedikit perbedaan dalam tata bahasa ini tidak ada artinya; toh sama-sama menggunakan tembakau. Tetapi judul seperti ini bisa membingungkan bagi mereka yang awam soal bioteknologi. Mereka yang buta soal kode genetik, antibodi monoklonal, dan GMO (Genetically Modified Organism) bisa saja menganggap bahwa semua tembakau bisa mengobati Ebola setelah membaca berita ini.

Mungkin saya mengada-ada, tetapi coba bayangkan jika ada pasien Ebola yang membaca berita ini, kemudian menolak diterapi secara medis dan hanya mau minum jus tembakau dengan alasan: “Kemarin di Tempo dibilang tembakau bisa menangkal Ebola!”

Choose your words wisely, dear sir, for not all people understand it like you do.