Search

The Lone Hike — Gunung Catur (2096 mdpl)

My first hike, and I hike alone. Lost, thirsty, trapped by hunters and their deer-retrieving dogs — and how five minutes changed everything.

broca.id3 min read

Gunung ini sebenarnya tiap hari saya lihat kalau diam di rumah; tiap pagi meninabobokan saya dengan menghalangi sinar matahari dan berbisik “masih malam nak, tidurlah lagi.” Dua puluh tahun lebih saya tinggal di rumah ini dan belum pernah sebelumnya saya artikan bisikan ini sebagai sebuah tantangan.

This is my first hike, and I hike alone.

Ada dua rute untuk mencapai puncak Gunung Catur: (1) dari selatan di pinggir Danau Beratan dan (2) dari timur di Pura Pucak Tinggan di Kabupaten Badung. Karena lebih dekat dan (katanya) lebih landai, saya pilih jalur pertama; walaupun ternyata jalur ini malah lebih sulit karena tidak berisi tangga dan kurang terurus. Pada 90 menit pertama pendakian masih bisa dinikmati, karena jalurnya masih landai; walaupun celana dan jaket saya basah terkena embun.

Satu jam terakhir pendakian adalah pendakian yang sebenarnya; jalurnya menanjak, licin, dan penuh akar pohon. Setiap kali saya berhasil melewati tanjakan yang tajam, saya takut sendiri karena membayangkan bagaimana caranya turun nanti. Tidak ada penanda ketinggian yang bisa dibaca; praktis saya tidak tahu seberapa tinggi posisi saya dan seberapa jauh saya dari puncak. Saya hanya berbekal dua botol air minum, dan botol pertama sudah habis selama 90 menit tadi; sementara puncak gunung ini rasanya masih jauh sekali.

Selama pendakian, saya benar-benar seorang diri. Saya melihat beberapa jejak yang kelihatannya masih baru, dan mengira ada orang yang sudah berangkat sebelum saya. Saya berharap bertemu mereka di jalan untuk meminta air minum dan menanyakan seberapa jauh puncaknya; tapi tidak ada satu orang pun yang saya temui. Beberapa kali saya berhenti dan ingin kembali turun, karena air yang hanya tersisa satu botol, puncak yang rasanya masih sangat jauh, dan jalur yang mengerikan. Dalam hati, saya menyesal berangkat sendiri.

Saya benar-benar putus asa dan ingin kembali turun; saya memutuskan akan turun jika (1) air di botol kedua sudah habis seperempat; atau (2) bertemu pendaki lain yang mengatakan puncaknya masih jauh. Tetapi di sisi lain saya takut turun sendiri, karena jalur yang sulit dan licin. Saya masih bisa melangkah, tetapi teknisnya saya terjebak.

Have I told you I’ve got a really special treat?

Saya tiba-tiba mendengar suara orang di semak-semak; ternyata mereka sedang meboros (berburu) kijang. Seumur hidup saya belum pernah melihat kijang, apalagi orang meboros. Saya menanyakan masih seberapa jauh puncaknya, dan beliau menjawab: “Lima menit!”

Dan benar, lima menit kemudian saya sampai di puncak, Pura Pucak Mangu.

Orang di desa saya menyebutnya Pura Pucak Pengelengan, karena konon ada keturunan Raja Mengwi yang mendaki gunung ini; dan di puncak beliau disuruh ngeleng (menggeleng) untuk melihat daerah yang akan menjadi kekuasaan beliau; wilayah Danau Beratan di sebelah barat dan wilayah Kabupaten Badung di sebelah timur. Ibukota Kabupaten Badung (Mangupura) juga sepertinya dinamai berdasarkan puncak gunung ini.

Di perjalanan turun, saya kembali bertemu dengan bapak-bapak pemburu tadi. Saya “disandera” karena jalur pendakian melewati wilayah perburuan mereka; dan kalau saya turun, kijangnya bisa lari karena saya berisik. Bapak-bapak ini ternyata mendaki dari Pura Pucak Tinggan dengan anjing-anjing mereka (lalu jejak kaki tadi punya siapa?). Saya ragu anjing-anjing mereka bisa berburu, karena kurus-kurus dan masih kecil (saya ingat dengan cerita Pan Balang Tamak dengan anjingnya); tetapi nyatanya mereka berhasil. Harusnya anjing ini diberi nama baru: deer retriever.

I am a deer retriever, and I do retrieve deer.

Overall, pendakian pertama saya ini sangat berkesan; persis seperti review yang ditulis seorang turis pendaki: gruesome but exciting.

This is my first hike, and I hike alone no more.