To Erebor! — Gunung Batur (1717 mdpl)
A midnight ascent of Gunung Batur — mists, silhouettes, a pregnant stray dog named Mo, and perspective earned at the summit.
Far over the misty mountains cold,
To dungeons deep, and caverns old,
We must away! Ere break of day,
To claim our long-forgotten gold.
— J.R.R. Tolkien
Batur itu ibaratnya sebuah matryoshka — mainan asal Rusia berupa boneka yang berlapis-lapis; yang mana kalau dibuka satu lapisannya akan memperlihatkan boneka yang lebih kecil di dalam.
Batur adalah gunung di dalam gunung; sebuah gunung berapi yang berdiri di atas kaldera raksasa milik gunung prasejarah lain yang meletus puluhan ribu tahun yang lalu. Kaldera ini dikenal dengan nama Kintamani.
Seperti Thorin et al dalam misinya menuju Erebor; mata setiap pendaki Gunung Batur sedari awal sudah tertuju pada emas yang tersembunyi di gunung itu. Jika Thorin menginginkan emas dan permata yang dulu direbut Smaug, para pendaki Gunung Batur merindukan emas yang lain: sunrise di puncak Batur.
Pendakian dimulai pukul tujuh sore, karena rencananya kami akan menginap di sebuah warung — kami menyebutnya villa, yang jaraknya satu jam dari puncak. Ada tiga macam terrain yang harus dilewati selama pendakian ini: hutan, batu, dan pasir. Hutan adalah jilid pertama pendakian yang kami lewati selama kurang lebih satu setengah jam; bagian ini kurang lebih seperti Mirkwood di The Hobbit, gelap tak berujung.
Bagian kedua adalah bebatuan, dimana langit malam mulai tampak jelas di atas dan lampu-lampu rumah penduduk menerangi lembah Gunung Batur di bawah. Dari sini perjalanan sudah mulai menarik. Kami sampai di villa pukul sepuluh malam dan bermalam di sana.
Bagian terakhir adalah pasir; inilah rintangan terakhir sebelum menaklukkan Batur — istilah kerennya summit attack. Kami berangkat pukul lima pagi, dan tiba di atas sebelum matahari terbit.
Ini saatnya memanen emas itu.
Tanpa bermaksud mengurangi maknanya, rasanya sunrise itu biasa-biasa saja. Tidak jauh berbeda dari yang di rumah. Mungkin awan pagi itu kurang tebal, tidak seperti di foto-foto.
Yang menarik justru kabut di lereng gunung; dari atas kabut ini terlihat seperti selimut tipis yang membungkus kaki gunung ini; mungkin dia masih enggan terjaga. Kabut yang biasanya menggantung di atas sekarang tenggelam di bawah; kabut yang biasanya merusak jarak pandang ternyata elok dipandang dari atas. Bukankah inti mendaki adalah merubah sudut pandang?
To see and take pleasure in seeing, to see and be amazed.
Ada tiga gunung yang tampak seperti silhouette saat matahari mulai terbit: Gunung Abang (masih bagian dari kaldera raksasa Kintamani), Gunung Agung, dan Gunung Rinjani di pulau seberang. Ketiganya tampak seperti raksasa-raksasa angkuh yang tidak terima bawahannya kami taklukkan. Wait for me, you magnificent giants.
Seperti Panca Pandawa yang mendaki ditemani Bhatara Dharma, kami juga mendaki bersama seekor anjing. Namanya Mo, seekor anjing betina yang sepertinya sedang hamil dan kakinya terluka. Kami menemukannya di hutan, dan sempat memberinya makanan disitu. Dari situ kami terus diikuti; dia bahkan menunggu kami saat bermalam di villa dari luar dan masih terus mengekor sampai di puncak.