Search

Voucher

The highest honor I ever received wasn't a trophy — it was a shoe store voucher. On a math teacher's quiet reward and a friend who should have been a mathematician.

broca.id2 min read

Saya masih ingat, dulu di hari-hari terakhir saya di SMP; saya dan seorang teman pernah dipanggil guru matematika saya yang killer ke ruangannya. Dan di masa-masa itu, “dipanggil ke ruang guru” itu sesuatu.

Saya dan teman tadi didudukkan di depan meja beliau dengan berdebar-debar, dan dengan santainya beliau berkata “Bantu ibu rekap nilai ya”. Antiklimaks.

Tetapi ternyata itu cuma basa-basi; sesaat kemudian beliau melanjutkan dengan “Kalian mau nilai berapa?”, dan memberi kami voucher belanja di toko sepatu miliknya. Surprise!

Voucher tadi adalah hadiah dari tantangan (saya lupa apa tantangannya) yang beliau berikan ke kelas kami beberapa waktu lalu dan ternyata kami berdualah pemenangnya.

Sampai hari ini saya masih merasa inilah penghargaan tertinggi (mungkin tertinggi kedua) yang pernah saya terima; bukan piagam juara, bukan uang, bukan medali, tetapi sebuah voucher belanja di toko sepatu.

Hari ini teman yang dipanggil bersama saya wisuda; setelah SMP dia melanjutkan ke SMK dan kuliah pariwisata di salah satu politeknik di Bali. Mungkin dalam hati saya sedikit kecewa, karena dia adalah dewa matematika di SMP saya, dan jauh lebih pintar dari saya di bidang itu; tetapi kuliahnya jauh dari matematika.

But then again, that’s life, right? It’s a box of chocolate. You’ll never know what you’re gonna get.

He would have made an amazing mathematician though.

Good luck, bro.