Waktu
Dua jam menunggu ujian, sementara penguji bergurau di luar. Tentang waktu, ilusi hierarki, dan lima menit yang bukan sekadar lima menit.
Jadi, ceritanya, kemarin saya ujian. Namanya responsi; semacam pretest, skirmish, untuk ujian sebenarnya nanti. Waktu itu pukul 12 siang; dan kordik (koordinator pendidikan)-nya sudah memberi kode bahwa ujiannya kemungkinan baru dimulai sore hari karena pengujinya masih ada acara ilmiah, dan saya mesti menunggu. FYI, sebelum menunggu dik koas sudah “dilucuti” terlebih dahulu; handphone, buku, dan sebagainya tidak boleh dibawa.
Jadi begitulah; pukul 12 siang, post-jaga, belum makan, duduk terkantuk-kantuk hanya dengan status ujian dan lembar penilaian.
Pukul 14, akhirnya beliau datang. Saya diminta menunggu di ruangan sementara beliau masih berbicara di luar. Samar-samar saya dengar suara tawa beliau; ternyata beliau sedang bergurau dengan para residen di luar. Saya tidak tahu apa yang beliau bicarakan; tetapi dari suara tawa yang berderai di luar, saya mulai bertanya-tanya; sebegitu tidak berharganya-kah waktu saya yang sudah dua jam menunggu? Seberapa tidak pentingnya-kah ujian saya dibanding small-talk beliau?
Dan bukan hanya beliau; rasanya banyak orang, termasuk saya sendiri, yang beranggapan bahwa waktunya lebih berharga daripada orang lain. Kadang kita merasa bahwa dengan melakukan hal yang penting, atau menjadi orang penting; kita lebih berhak atas waktu tersebut dibanding orang lain. Kamu membuang-buang waktu saya. Begitulah kira-kira yang terucap, meski hanya dalam hati.
Benarkah begitu? Benarkah — seperti kata Einstein, bahwa waktu berjalan dengan laju yang berbeda untuk mereka yang bergerak sangat cepat?
Bukankah dalam semenit (normalnya) jantung kita berdetak dalam frekuensi yang sama? Paru kita bernapas dalam laju yang sama? Dan pada akhirnya, umur kita berkurang dalam jumlah yang sama?
Kadang kita mudah terjebak dalam ilusi soal waktu. Misalnya, lima menit untuk seorang dokter dengan antriannya yang mengular lebih penting daripada lima menit sang pasien. Maka cukup dengan anamnesis ala kadarnya, tempel stetoskop, tulis resep; next. Kadang saya kasihan melihat pasien yang sudah berobat kemana-mana tapi bahkan tidak tahu nama penyakitnya apa. Pertanyaan “kemarin di dokter dibilang sakit apa?” seringkali dijawab dengan gelengan kepala dan senyum masam “nggak tau”. Beberapa hari yang lalu saya juga sempat bertemu seorang penderita lepra yang ternyata sudah terdiagnosis dari setahun yang lalu di tempat lain; namun lebih memilih pengobatan alternatif daripada pengobatan medis yang memang cukup lama (6–12 bulan), karena takut dengan efek samping obatnya. Dokter spesialisnya kemudian bertanya “dulu nggak nanya tentang efek samping obat ke dokternya?”. Pasiennya geleng-geleng, dokternya juga.
Dan semua itu mungkin saja bersumber dari hal kecil tadi; bahwa waktu sang dokter terlalu berharga untuk melayani pertanyaan-pertanyaan awam pasiennya.
Yang kadang luput dari perhatian adalah bahwa lima menit untuk sang pasien sebenarnya bukan lima menit, mungkin mereka menghabiskan berjam-jam di perjalanan, menunggu berhari-hari agar ada yang mengantar, atau bekerja berminggu-minggu mengumpulkan rupiah; semuanya untuk lima menit di kamar periksa.
Sebegitu tidak berharganya kah waktu mereka?